TikTok Live Dimatikan Saat Demo, Netizen Merasa Dibungkam

Tiktoklive

Bacalagi – Dalam beberapa hari terakhir, pengguna TikTok di Indonesia mendadak tidak bisa mengakses fitur TikTok Live tepat di tengah gelombang demonstrasi besar yang melanda berbagai wilayah. Kejadian ini bikin heboh, menarik respons pro-kontra, dan memicu pertanyaan serius: apakah kebebasan berekspresi memang sedang “dibungkam”?

Fitur TikTok Live Hilang, Netizen Murka

Sejumlah kreator dan warga mengaku bingung dan kecewa begitu mendapati fitur siaran langsung itu menghilang begitu saja di momen krusial. Salah satu kreator, bernama Camel, mengaku terkejut saat tiba-tiba tak bisa melakukan siaran hidup seperti biasa. Pesan menyebar cepat di grup WhatsApp, lalu meluas ke media sosial netizen tersulut, merasa “dibungkam” dalam situasi yang seharusnya bisa mereka abadikan secara real time.

Bacaan Lainnya

Alasan yang Disampaikan TikTok: “Demi Keamanan dan Ketertiban”

TikTok Indonesia kemudian angkat bicara. Mereka menyatakan bahwa penangguhan fitur Live dilakukan secara sukarela dan bertujuan sebagai “langkah pengamanan tambahan untuk menjaga TikTok tetap menjadi ruang yang aman dan beradab.” Sebelumnya, situasi unjuk rasa yang memanas di sejumlah daerah dianggap cukup rawan, sehingga platform mengambil keputusan ini sebagai bentuk antisipasi.

Komdigi: Bukan Atas Arahan Pemerintah

Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdig menegaskan bahwa langkah ini adalah inisiatif TikTok sendiri, tanpa perintah dari pemerintah atau lembaga resmi. Bahkan, Komdigi mengapresiasi keputusan tersebut karena datang atas kesadaran platform, bukan karena tekanan.

Polisi dan Kekhawatiran Mobilisasi Massa melalui Live

Pihak kepolisian dari Polda Metro Jaya sempat menyampaikan kekhawatiran serius: TikTok Live diduga digunakan sebagai sarana mobilisasi aksi, termasuk mengajak pelajar untuk turun ke jalan. Dalam unjuk rasa 25 Agustus lalu, tercatat sebanyak 196 pelajar diamankan. Polisi pun mulai memantau penggunaan live sebagai potensi alat provokasi.

Suara Netizen: Kebebasan atau Sensor Terkamuflase?

Reaksi netizen pun kuat. Banyak yang merasa bahwa alasan keamanan terkesan klise dan kurang meyakinkan, terutama karena penonaktifan fitur ini terjadi tepat saat demonstrasi berlangsung. Ada rasa curiga bahwa ini adalah bentuk pembungkaman terselubung terhadap kebebasan berekspresi. Apakah benar hanya kebetulan, atau ada “kekuatan tersembunyi” di balik keputusan itu?

Dampaknya

Di era media sosial, fitur seperti TikTok Live diwarnai interaksi real time dan partisipasi langsung memegang peran penting dalam menyuarakan momen penting. Ketika fitur ini tiba-tiba dihilangkan di tengah kondisi genting, sensitivitas terhadap persoalan transparansi semakin meningkat.

Penonaktifan ini pun mempertegas dualitas peran media sosial: sebagai ruang kebebasan, sekaligus medium yang mudah termanipulasi atau disensor bila menyalahi agenda tertentu.

Langkah TikTok mematikan fitur Live di tengah demonstrasi besar di Indonesia akhir Agustus 2025 ini memang disampaikan sebagai upaya menjaga keamanan dan ketertiban dengan inisiatif sendiri, dan mendapat apresiasi dari Komdigi.

Namun, timing dan kondisi sosial politik yang sedang memanas turut menciptakan skeptisisme di kalangan netizen. Ketika sebuah kanal aspirasi mendadak ditutup di saat paling dibutuhkan, publik berhak mempertanyakan: apakah ini memang demi “ketertiban”, atau justru “pembungkaman tersembunyi”?

Pos terkait